Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Friday, 26 February 2016

[Review] Tong Tji Tea Bar, Bukan Sekedar Teh


Sudah menjadi rahasia umum kalau tempat makan di mall kebanyakan mahal. Dari mulai makanan ringan (sekedar untuk nongkrong sambil ngobrol menghabiskan waktu) sampai dengan makanan berat (saat kelaparan melanda setelah kecapean keliling mall). Namun, dari sekian banyak tempat makan yang mahal, masih ada terselip beberapa yang cukup terjangkau oleh kantong. Tinggal kejelian kita saja dalam mencari. 

Salah satu tempat makan yang bisa dijadikan tempat nongkrong favorit saya di mall adalah Tong Tji Tea Bar. Seperti namanya, tempat makan ini dimiliki oleh perusahaan teh Tong Tji. Tersebar di seluruh Indonesia hampir di semua mall. Ada beberapa versi dari Tong Tji Tea Bar, ada yang di food court, ada yang di gang/ jalan di dalam mall, dan aja juga yang membuka gerai sendiri (istilahnya tenant yah? CMIIW deh :D). Tong Tji Tea bar favorit saya ada di Paragon Mall Solo. Perbedaan diantara ketiganya adalah, untuk gerai food court dan di jalanan mall, terbatas pada minuman dan makanan ringan, sedangkan untuk tenant ada pilihan makanan beratnya dan tentu saja dengan tempat yang lebih nyaman. Namun demikian untuk harga tidak ada perbedaan yang signifikan.


Minuman yang disajikan kebanyakan berbagai macam varian teh, baik hangat maupun dingin, tradisional maupun modern (bubble tea). Dari sekian banyak varian teh yang sudah pernah saya coba, saya jatuh cinta dengan Teh Serai. Walaupun tidak otentiki , rasa serainya tidak terlalu nendang namun rasanya unik dan penyajiannya pun juga unik. 1 gelas besar berisi air panas ditambah 1 batang serai yang di geprek + beberapa lembar daun jeruk yang telah di robek. Agak-agak aneh, nggak biasa, tapi enak :D 


Camilan yang disajikan oleh Tong Tji Tea bar, kebanyakan adalah camilan tradisional, ataupun fushion, semacam tempe goreng tepung, singkong goreng keju, singkong Thailand (which basically singkong kukus diberi saus santan kental :D), dan masih ada beberapa camilan lainnya. Sedangkan makanan berat ada nasi goreng, mie goreng, dll (nggak hapal dan lupa foto menunya :D). Untuk rasa, not so bad lah... But not so good either


Untuk cabang yang memiliki ruangan sendiri, nuansa yang di hadirkan adalah nuansa cozy, enak buat nyantai dengan berbagai poster bertemakan teh di dinding ruangan. Meriah, dengan banyak hiasan namun cukup elegan dan tidak terkesan penuh. Pelayannya juga ramah dan cukup sigap melayani pesanan. 

Rekomendasi saya 3.5 bintang dari 5. Salah satu pilihan untuk nongkrong-nongkrong cantik dan ganteng tanpa harus menguras banyak isi kantong :D

Saturday, 8 March 2014

[Review] Roemami UMS


Setelah sekian lama lulus, akhirnya saya memblusukkan diri ke seputaran kampus tercinta #halah. Awalnya sih untuk mejilidkan buku, dan kemudian berakhir dengan wisata kuliner. Kampus UMS sudah sangat jauh berubah dibandingkan jaman saya kuliah dulu, bukan hanya bangunan kampusnya yang semakin megah namun juga area sekitarnya.

Dulu yang ada hanya warung makan sederhana, namun sekarang ada banyak tempat makan yang bukan hanya berbentuk warung namun juga tempat nongkrong yang nyaman (+ free wifi pastinya). 

Salah satu tempat makan sekaligus tempat nongkrong yang saya kunjungi adalah Roemami, singkatan dari Roemah Macaroni dan Milk. Tempat makan ini menempati salah satu ruko di depan kampus 4 UMS (bujubuneng, jaman saya blom ada nih kampus). Memasuki ruangan, kesan nyaman muncul, ruangan di dominasi oleh kayu, baik pada perabot maupun pada hiasan di belakang kasir.

Waktu saya kesana kebetulan pas lagi sepi, jadi bisa santai (dlosoran di lantai juga gpp, kalau g punya malu sih :D). Begitu duduk, kami disodori album foto eksklusif yang berisi menu (berasa makan di restoran, quite a treat, nilai plus untuk tempat makan ini). 


Kami memesan pasta, masing-masing Macaroni Carbonara dan Penne Bolognaise. Untuk minumnya saya memesan Irish Milk (blom kesampaian ke Irish, nyicipin susunya dulu XD), sementara teman saya memilih hot tea. Tak perlu menunggu lama, pesanan kami pun datang.

Masing-masing pasta disajikan diatas piring putih ala hotel atau restoran (another plus point from me). Porsinya cukup menurut saya, tidak terlalu besar ataupun kekecilan (saya rasa standar untuk restoran/rumah makan yang menyajikan pasta di kota Solo).

Pasta al dente, tidak lembek namun aroma gandumnya sudah hilang, aroma dari basil, oregano dan rosemary tercium dengan lembut, menyenangkan untuk dinikmati. Sedangkan untuk Irish Milknya agak-agak bigung saya, karena nggak ada referensi. Yang jelas tidak amis dan eneg, ada tercium aroma tertentu yang menghilangkan bau khas dari susu.

Selesai makan, kenyang saatya eksekusi (membayar). Ternyata tidak semahal yang saya bayangkan, harga makanan/minuman disini berada di kisaran dibawah 20ribu untuk tiap menunya. Makan berdua habis sekitar 50K, worth it lah dengan cita rasa dan suasana makan yang menyenangkan.

Roemami juga menyediakan beberapa permainan yang bisa kita mainkan untuk mengisi waktu sambil menunggu pesanan atau selesai makan (paling enggak ada kartu yang kami mainkan seusai makan).

4/5 bintang saya berikan untuk Roemami, worth to try jika anda berada di seputaran UMS. Oh iya, satu lagi, saat disana kita diminta no tlp, akun twitter/FB dan ada pemberitahuan kalau ada promo diskon (nice treat)

Monday, 25 November 2013

[Review] Mie Ayam Surabaya Pak Dul

Parkir nya selalu penuh

Sedikit keluar dari kota Solo, jika kita hendak menuju Sukoharjo atau Wonogiri, maka kita harus melewati daerah Solo Baru. Solo Baru sebagai kota satelit Solo, berkembang dengan pesat, berbagai macam kuliner bisa kita temui disini, dari mulai kuliner tradisional sampai kuliner modern, dari kuliner kaki lima, sampai dengan sekelas restoran ataupun mall.

Salah satu kuliner yang ramai dan terkenal di Solo Baru adalah warung ini yang terletak di sebelah utara bekas Atrium Solo Baru. Sebuah warung tenda yang tidak begitu besar dan semakin terasa sesak karena banyaknya pengunjung yang makan disini.

Pak Dul in action

Menu yang ditawarkan oleh warung ini antara lain mie ayam original, mie ceker, mie pangsit, mie bakso, dan mie bakso pangsit. Selain menu mie, warung ini juga menawarkan menu pangsit kuah, bakso kuah dan bakso pangsit kuah.

Yang membedakan warung makan ini dengan warung mie ayam pada umumnya adalah pada penyaiannya. Jika kita memesan mie, maka kita akan disajikan 2 mangkuk, satu mangkuk berisi mie, sayur (sawi) dan daging ayam giling yang sudah di masak, satu mangkuk lagi berisi kuah, irisan daun bawang dan isian sesuai pesanan kita (ceker, bakso ataupun pangsit).
Tampilan Mie nya
Untuk mie nya sendiri dimasak tidak begitu matang (hanya 1/2 - 3/4 matang). Beberapa orang suka dengan cara masak mie yang seperti ini, namun beberapa tidak. Yang jelas dengan dimasak hanya 1/2 - 3/4 matang, mie masih kerasa keras (kalau pesan untuk dibawa pulang tidak benyek), sayangnya cara masak seperti ini membuat aroma tepungnya masih kerasa. Hal ini bisa dikurangi dengan penggunaan bumbu dengan aroma tajam (warung ini menggunakan kecap ikan pada bumbunya). 
Ceker yang memikat

Pada kesempatan kali ini saya memesan mie ceker, sementara teman saya memesan mie pangsit dan bakso pangsit kuah. Penampilan kuah cekernya bersih, dengan kuah bening dengan sedikit minyak diatasnya, cekernya dibersihkan dengan baik, tidak ada kuku maupun sisa kulit yang menempel. Rasa kuahnya kalem, tidak ada bumbu yang menonjol, sehingga memudahkan kita untuk "berkreasi" jika kita hendak menambahkan sambal, saos ataupun kecap ikan. Pun jika kita tidak suka menambahkan apa-apa rasanya sudah enak terlebih karena pada mangkuk mie nya sudah ada berbumbu. Saya pribadi lebih suka menambahkan sambal ke mie saya, sambal bawang biasa ditambahkan pada kuah ceker semakin terasa nikmat dinikmati siang hari yang panas.

Bakso Pangsit

Baik bakso maupun pangsitnya juara. Daging baksonya lembut, tidak ada serat ataupun urat yang suka nyelip di gigi, Sementara pada pangsit menggunakan daging yang digiling kasar, sehingga masih terasa tekstur dagingnya, dibungkus dengan kulit pangsit yang lembut. Lagi-lagi dengan tambahan sambal, sajian ini semakin terasa nikmat. Feels like heaven in a bowl #halah #mulailebay

Kekurangan dari warung ini adalah tempatnya yang kecil, sementara pengunjungnya banyak, sehingga tak jarang harus menunggu untuk mendapatkan tempat duduk. Namun hal tersebut di imbangi dengan pelayanan yang cekatan. Saat ramai sekalipun, sekitar 15 menit setelah kita memesan, makanan kita sudah tersaji. Sedikit tips, sebaiknya pesan ke bagian yang masak, jangan ke pelayan yang mengantar makanan/ membersihkan meja, karena kadang suka dicuekin :))

Satu hal yang sering menjadi pertimbangan jika makan di warung kaki lima adalah masalah kebersihan. Walaupun warung ini kecil dan ramai dengan pengunjung namun untuk ukuran warung kaki lima kebersihan warung ini terjaga dengan baik. Mangkuk dan gelas yang sudah terpakai serta kotoran yang ditinggalkan pengunjung tidak banyak bertebaran.

4/5 bintang saya berikan untuk warung ini. Jika anda melewati Solo Baru tak ada salahnya untuk mencoba, terlebih kalau anda suka dengan mie.

Warung Mie Ayam Surabaya Pak Dul terletak di samping bekas Atrium Solo Baru, dari arah Solo, sebelum traffic light patung Pandawa belok kiri kurang lebih 100 meter.

Wednesday, 20 November 2013

[Review] Panties Pizza


Sesekali boleh dong ya nyicipin makanan bule? *pertanyaan retoris dan tak perlu dijawab* :D

Kali ini saya mencoba makanan dari Italia, yaitu Pizza, dan kedai Pizza yang saya kunjungi adalah Panties Pizza. Pertama kali denger namanya, yang terlintas di pikiran adalah pakaian dalam, entah saya yang piktor, atau memang strategi pemasaran dari pemilik restoran ini.


"Keanehan" lain yang akan kita dapatkan di kedai pizza ini adalah dalam hal pemesanan makanan, kalau biasanya kita duduk manis dan dilayani, maka disini sedikit berbeda. Tidak ada pelayan yang menyapa kita di pintu masuk, mempersilahkan kita duduk dan kemudian "taking order" (melayani pesanan). Jika kita hendak memesan, kita harus datang ke kasir, memilih menu, membayar sambil membawa minuman kita dan kemudian memilih tempat duduk.

Bagaimana dengan pizza pesanan kita? Sebelum meninggalkan kasir, petugas memberikan semacam pager yang akan berbunyi ketika pesanan kita siap. Dan setelah menunggu kurang lebih 15 menit, pager pun berbunyi dan kita bisa mengambil pizza kita di meja kasir.

Kedai Pizza ini hanya menyajikan satu jenis pizza yaitu pizza calzone, pizza lipat yang berbentuk seperti kue pastel, yang membedakan adalah isiannya. Kali ini saya memesan Chicken Pizza, sementara teman saya memesan 1001 Nights Pizza dengan ekstra keju. 

Pizza calzone yang telah dipotong dihidangkan diatas "piring" dari anyaman rotan dan di tutup/ dibungkus dengan kertas roti. Chicken Pizza berupa adonan kulit pizza tipis yang di isi dengan potongan daging ayam yang cukup besar dengan keju mozzarela, sementara 1001 Nights Pizza berisikan daging sapi giling dengan bumbu kebab (gulai). Keduanya sama enaknya, sama-sama menyenangkan untuk dinikmati di sore hari. Satu hal yang menjadi ganjalan adalah, kami memesan ekstra keju untuk 1001 Nights Pizza (dengan tambahan biaya tentu saja), tapi entah kenapa kami tidak mendapatkan ekstra nya, antara Chicken Pizza tanpa ekstra keju dan 1001 Nights Pizza terasa sama saja kejunya.

Sebagai teman makan pizza kami memesan Choco Wild Ice dan Hulk (Green) Tea Ice, dari namanya dan juga harganya (masing-masing Rp 10.000,-) kami berharap rasa yang mantap dan orisinal dari kedua minuman tersebut, namun Choco Wild nya terasa seperti minuman Milo (terlalu samar rasa coklatnya), sementara untuk Hulk Tea nya, berasa seperti Teh rasa buah botolan.


Satu hal yang jadi nilai lebih dari kedai makan ini adalah suasananya, meja-meja dan kursi-kursi kayu tanpa finishing ditata di halaman rumah model lama menjadi tempat bagi para pelanggan menikmati makanan dan juga suasana. Cukup nyaman menurut saya, dan saya rasa banyak orang lainnya karena kedai ini selalu ramai tiap harinya.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, 3,5/5 bintang saya berikan untuk kedai pizza ini. Quiet tricky on choosing the menu, recomended lah untuk tempat nongkrong yang nyaman tanpa harus menguras kantong terlalu dalam.

Panties Pizza terleta di Jl Kebangkitan Nasional No. 63 Penumping Solo, sebelah barat sate Yu Rebi, tempatnya cukup strategis dan mudah di cari.

Wednesday, 6 November 2013

[Review] Warung Bakmi Pak Hasan


Saat jaman kuliah, hunting kuliner merupakan suatu acara wajib untuk anak kost. Bukan untuk sok-sok an, tapi memang untuk mencukupi kebutuhan perut yang kelaparan. Itupun juga harus pintar-pintar mencari warung makan yang murah meriah (dan syukur-syukur enak)

Setelah sekian lama lulus kuliah saya dan seorang teman mampir ke sebuah warung bakmi di daerah Mendungan, sambil menunggu pesanan kami datang, teman saya ini bercerita kalau warung makan ini sebelumnya berada di pojokan depan swalayan Relasi (sekitar 100 meter dari lokasi yang sekarang).

Dulu, saya lumayan sering jajan di warung makan ini, biasanya pesan bungkus untuk dimakan di kost. Jarang makan di tempat karena lumayan ramai dan tempatnya tidak terlalu besar.

Tak berapa lama, pesanan kami pun datang. Saya memesan bihun rebus sementara teman saya memesan mie goreng. Masih sama seperti yang saya ingat dulu, aroma bawang putih langsung tercium kuat begitu piring berisi bihun rebus diletakkan di hadapan saya. 

Dan masih seperti yang saya ingat juga, gagrak atau ubo rampe/kelengkapan di dalam mangkuk masih sama seperti dahulu. Sebagai teman pelengkap bihun ada sayuran (sawi hijau) beserta potongan jamur kuping, bakso, telur, suwiran daging ayam dan potongan adonan tepung (fish cake?).

Dari 2 pesanan kami, saya pribadi lebih menyukai bihun rebusnya. Rasanya ringan dan segar, terlebih ketika saya tambahkan gerusan cabe rawit. Secara umum, menyenangkan dan nyaman makan di warung ini, tempatnya juga bersih dan cukup tenang (tidak seramai dahulu). 3,5/5 bintang saya berikan untuk warung ini. Patut untuk dicoba



Menu dan daftar harga, cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa:


Lokasi dari Warung Bakmi Pak Hasan:



Sunday, 3 November 2013

[Review] Es Krim Tentrem Yang Bikin Tentrem


Sebenarnya saya jarang secara khusus hunting kuliner, terlebih kalau di luar "jangkauan wilayah" saya. Biasanya kalau mau ke satu tempat baru nyari referensi tempat makan di daerah tersebut. 

Es krim Tentrem sendiri sebenarnya di luar jangkauan wilayah saya, namun karena "terprovokasi" oleh postingan mas Andika disini akhirnya sayapun memutuskan untuk pergi ke Es Krim Tentrem.

Agak susah juga untuk menemukan toko es krim ini, terletak di deretan pertokoan di jalan Jend. Urip Sumoharjo Solo. Tidak seperti toko lainnya yang heboh dengan dekorasi agar "terlihat" oleh calon pembeli. Di depan Toko Es Krim Tentrem hanya ada baliho diatas pintu masuk yang menunjukkan bahwa toko tersebut bernama Tentrem yang menjual es krim.

Sederhana, itu kesan yang saya dapatkan saat masuk kedalam toko, ruangan yang tidak terlalu luas, hanya terdapat 4 pasang meja rotan beserta kursi yang juga terbuat dari rotan yang sudah mulai kempes busanya. Tidak seperti restoran lain yang menawarkan suasana interior yang modern atau tradisional. 


Kesederhanaan lainnya datang saat pelayan memberikan sebuah album foto (yang biasa kita dapatkan sebagai hadiah saat mencetak foto) yang ternyata merupakan daftar menu sajian yang ditawarkan oleh Es Krim Tentrem. Di dalamnya terdapat foto-foto sekaligus harga dari es krim yang ada. Oh iya, tips untuk memesan, pada kebanyakan gambar hanya ada 3 jenis es krim yaitu coklat, vanila dan strowberi. Tapi sebenarnya ada banyak pilihan lain yang bisa kita pesan, ada rasa anggur, rum raisin, durian dan lain sebagainya.

Tak perlu menunggu lama, pesanan kamipun datang. Es krim yang kami pesan Banana Split dengan rasa anggur, rum raisin dan strowberi, Tutti fruti, es krim cup rasa rum raisin dan es krim bungkus (lupa namanya) yang terdiri dari 3 rasa es krim.

Pertama kali yang saya rasakan sewaktu mencicipi es krimnya adalah kalem, tidak terlalu creamy dan juga tidak terlalu manis. Mengingatkan saya dengan es krim buatan rumahan. Banana Split nya seru, karena selain terdiri atas 3 rasa es krim, tambahan buah kaleng, pisang juga sus kering dan wafer stick nya bikin seru makannya. My personal favourite would be Rum Raisin, selain karena jarang nemu es krim dengan rasa ini, juga karena rasanya yang kalem perpaduan antara rum dan juga raisin hampir seperti sherbet IMO. Favorit saya yang kedua adalah rasa vanila, bikin meleleh waktu memakannya.

Oh iya, jangan takut untuk pesan rum raisinnya karena tidak akan membuat anda mabuk :D Selain itu ada beberapa jenis es krim yang di jual dalam bungkus yang terdiri dari beberapa rasa yang tidak bisa kita pilih rasa mana yang kita suka, jadi untung-untungan gitu deh :D

Kekurangan dari Es Krim Tentrem ada pada menunya yang kurang detail, ada baiknya kalau ditambahkan daftar rasa es krim yang tersedia, sehingga pelanggan tidak perlu bertanya 

Salah satu tempat yang patut untuk direkomendasikan jika anda main ke kota Solo, jika anda suka es krim mencari tempat makan yang nyaman, beda dengan yang lainnya, tidak rame dan tidak perlu antre, coba lah untuk kesini. Tidak ada alayer yang ngobrol heboh seakan-akan dunia milik mereka sendiri dan menganggu pelanggan lain. 4/5 bintang saya berikan untuk Es Krim Tentrem. Selamat mencoba :)



Monday, 16 September 2013

[Review] Warung Rujak Cingur


Sebenarnya ini pengalaman hunting kuliner saya beberapa waktu yang lalu, cuman rupanya belum sempat saya tuliskan disini, jadi sekaranglah saatnya untuk menuliskannya :D
Biasanya tempat makan yang menyajikan makanan yang berasal dari daerah tertentu di daerah lainnya, rasanya tidaklah se autentik aslinya. Tapi untuk makanan yang satu ini, saya tidak mempunyai referensi asli (alias saya belum pernah mencicipi kuliner ini di tanah kelahirannya).

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi dua buah warung yang sama-sama menyajikan Rujak Cingur sebagai salah satu menunya. Warung yang pertama terletak di Jl. Ronggowarsito 148 Solo, berada di sebelah barat RS. PKU Muhammadiyah, sebelum perempatan Tiga Serangkai sebelah kanan jalan (Utara jalan). Warungnya tidak terlalu besar namun cukup mudah untuk ditemukan karena banner yang menutupi bagian depan dan samping dari warung tersebut.

Seperti yang telah saya sampaikan di awal, saya belum pernah menjumpai rujak cingur yang otentik, dan tak berapa lama saya menunggu setelah memesan, inilah yang disajikan kepada saya:



Berbabagai macam sayuran dan buah-buahan yang dicampur dengan saus yang berwarna hitam (nyaris) pekat ditambah 1 buah kerupuk udang. Sayuran yang dipakai berupa kangkung dan taoge, sementara buah-buahan yang dipakai ada bengkoang, nanas dan juga mentimun, ditambah dengan beberapa potongan cingur (lidah sapi) dan tidak lupa potongan lontong. Sedangkan saos hitam yang digunakan merupakan campuran antara petis, kacang tanah dan berbagai macam bumbu.

Rasa yang mendominasi adalah rasa segar dari sayur dan buah-buahan, sedangkan untuk sausnya, rasa dan aroma petisnya terasa kuat dan mendominasi keseluruhan. Sedangkan untuk cingurnya tidak berbau amis. Cukup nyaman untuk dinikmati.

Sebagai teman makan rujak cingur, saya memesan semangkuk es kolak. Yang saya suka dari es kolak disini adalah tampilan dan rasanya yang homy banget. Kolak yang hanya berisi potongan pisang kepok dengan rasa gula jawa yang mendominasi serta aroma vanila yang hanya tipis, dan manisnya pas di lidah saya, tidak kemanisan (dan saya yakin mereka tidak menggunakan pemanis buatan).

Warung yang kedua berada di Jl. RA Kartini, tepatnya di samping parkiran Supermarket/Kafe Atria. Warung ini lebih ramai dibanding warung sebelumya, bisa jadi salah satunya karena faktor lokasi yang lebih strategis.

Sama seperti warung sebelumnya, di warung ini menjual berbagai macam jenis rujak dan rujak cingur salah satu menu yang ditawarkan.

Setelah beberapa saat saya menunggu, inilah yang disajikan ke hadapan saya: 



Penampilannya berbeda dengan warung pertama, kerupuk udang digantikan kerupuk merah yang biasa digunakan untuk gado-gado. Sedangkan untuk saosnya relatif lebih berwarna coklat tua, bukan hitam seperti pada warung pertama.

Komposisi isian relatif sama, ada sayuran kangkung, taoge, buah-buahan berupa bengkoang, mentimun, nanas serta potongan cingur dan lontong. Berbeda dengan warung yang pertama, disini rasa kacangnya lebih mendominasi, seperti saus kacang dengan sedikit sentuhan petis di dalamnya. 

Saya suka keduanya, dengan perbedaan rasa dan tampilan dari masing-masing, patut dan layak untuk dicoba kedua-duanya. 3,5 bintang untuk masing-masing. 

Wednesday, 28 August 2013

[Review] Kuliner Kenangan


Salah satu tempat makan di seputaran kota Solo yang menyandang nama "Sederhana". Terletak di Jl. A. Yani Pabelan Kartasura, masih di seputaran kampus UMS. Tempat makan ini termasuk kuliner kenangan bagi saya karena sewaktu kuliah di UMS, saya beberapa kali makan disini.

Dan setelah sekian tahun, akhirnya saya berkesempatan untuk kembali merasakan makan disini. Selain tempatnya yang sedikit bergeser dari tempatnya semula serta tampilannya, hampir tidak banyak perubahan, ibu yang melayani juga masih yang lama. Dan lebih dari apapun, rasa masakannya masih sama enaknya dengan yang saya ingat ketika dulu makan disini.

Tempat makan ini menyediakan berbagai macam masakan khas jawa. Kebanyakan olahan daging dari mulai daging ayam, ikan, daging sapi beserta jerohannya. Sedangkan untuk sayurannya hanya ada gudeg dan juga trancam (semacam sayur urap).



Disini kita bisa dengan bebas memilih menu apa saja yang kita mau, mempadupadankan semua masakan yang ada disana pun juga tidak dilarang. Favorit saya adalah sayur trancam (urap), sedangkan untuk lauknya kemarin saya memilih ayam goreng dan oleh ibu penjualnya ditambah kuah salah satu masakan yang ada disana (entah apa namanya).

Masakannya mantap, porsinya jumbo, jadi kalau anda bukan "pemangsa" bisa minta porsinya untuk "dikecilkan" :D (oh iya, foto diatas adalah porsi 1/2, bisa kebayang kalau porsinya full?) 

Tempatnya sendiri cukup nyaman, model lesehan sederhana (seperti namanya), tapi bersih, cozy kalau anak gahul bilang :p Harga di warung ini cukup terjangkau (tapi kalau jaman kuliah dulu cukup mahal sih, maklum mahasiswa mepet XD). Tergantung pada lauk yang kita ambil (untuk 1 porsi nasi + minum kisaran harga 10 ribuan.

Warung Lesehan Sederhana terletak di Jl. A. Yani, Pabelan Kartasura, tepatnya di sebelah barat SPBU Pabelan, di Utara jalan. Buka mulai pukul 19.00

3.5/5 bintang untuk warung makan ini, rekomendasi saya, wajib untuk dikunjungi :D

Monday, 12 August 2013

[Review] Selat Vien's Solo

Saya bahagia akhirnya bertemu dengan kawan dan lawan yang menemani saya dalam kluyuran menikmati kuliner di kota Solo, seseorang yang bisa memberi saya masukan tempat makan mana yang bisa saya coba dan juga memberikan kritikan terhadap masakan yang ada di tempat makan tersebut, dan berikut ini adalah salah satu dari hasil "perburuan" kami.

Selat merupakan masakan khas dari kota Solo. Bicara mengenai selat kebanyakan orang akan mengacu pada warung selat Mbak Lies yang ada di daerah kelurahan Serenan, namun sebenarnya ada banyak tempat makan yang menyajikan Selat, bahkan tidak sedikit pula yang mempunyai cita rasa yang lebih enak dari warung selat Mbak Lies (untuk yang satu ini tergantung dari selera masing-masing tentu saja).

Selat Vien's berada di Jl. Hassanuddin Pasar Nongko Surakarta, sekitar 200 meter sebelah barat dari Stasiun Balapan. Karena letaknya yang strategis ini, sangat mudah untuk mencarinya bahkan kalau kita seorang pendatang di kota Solo. Tinggal tanya ke tukang becak, nyampe deh di warung ini :D

Selain masakan selat, warung makan ini juga menyajikan berbagai macam masakan lainnya, berikut review saya dari beberapa masakan yang disajikan di warung makan ini.


Ada 2 jenis selat yang ditawarkan disini, yaitu Selat Daging Iga yang menggunakan daging iga sapi dan Selat Daging Cacah yang menggunakan daging sapi yang di cacah dan dibentuk bola-bola. Untuk pelengkapnya ada 1 butir telur pindang utuh, potongan wortel rebus, kentang goreng, keripik kentang, buncis rebus, acar mentimun dan daun selada dengan kuah encer berwarna kecoklatan. Secara keseluruhan rasa dari selat Vien's adalah segar cenderung asam, tidak seperti selat pada umumnya yang cenderung kearah manis. Sangat cocok untuk dinikmati saat makan siang atau saat berbuka puasa. Porsinya cukup mengenyangkan bagi saya, namun tidak terlalu besar pula.



Warung Selat Vien's juga menyediakan masakan sup, ada 3 macam sup yang ditawarkan warung makan ini, yaitu Sup Matahari, Sup Galantin dan Sup Maten. Yang membedakan dari ketiga sup tersebut adalah isiannya, sementara untuk kuahnya sama, kuah daging ayam yang bening. Untuk kali ini kami memesan Sup Matahari, yang berisi berbagai macam sayuran dan cincangan daging ayam berbumbu yang dibungkus dengan kulit lumpia dan dilipat dan dipotong sedemikian rupa sehingga bentuknya seperti bunga matahari (hal inilah yang menyebabkan kenapa disebut sup Matahari). Secara keseluruhan rasa dari Sup Matahari adalah segar, tidak ada bumbu yang mencolok, bagi sebagian orang akan bilang rasanya lempeng. Nah, rasa dari sup ini akan nendang dengan menambahkan potongan cabe rawit yang disediakan diatas meja. Dijamin, bakalan nagih makannya! *temen saya aja sampe mau nambah lagi :))*

Makanan lain yang ditawarkan warung ini adalah Stup Makaroni. Sayangnya kemarin kami tidak nyobain masakan yang satu ini. Kapan-kapan deh :D 


Tidak banyak pilihan minuman yang ditawarkan warung ini, hanya ada teh, jeruk, berbagai softdrink dan minuman botolan serta Es Kopyor. Kopyor yang digunakan merupakan campuran dari kopyor asli dan kopyor buatan yang terbuat dari agar-agar dan santan yang kemudian diberi sirup merah dan es batu. Yang saya suka manisnya pas, tidak kemanisan.

Kekurangan dari rumah makan ini adalah es jeruk yang ditawarkan bukanlah dari perasan buah jeruk tapi dari sirup jeruk (orson) - mungkin lebih tepatnya klo disebut dengan es sirup jeruk kali ya?

Untuk tempatnya nyaman, walaupun tidak terlalu luas dan sering kali ramai dikunjungi pengunjung namun penataannya cukup apik sehingga tidak terkesan berjubel-jubelan. Tempatnya juga bersih baik meja maupun lantainya. Sering kali warung yang ramai suka berdalih karena ramai jadi tidak sempat untuk bebersih, namun tidak untuk warung yang satu ini.

Bicara tentang review sebuah tempat makan, tidak lepas dari bicara soal harga dong? Nah dibawah ini adalah daftar harganya. Oh iya harga tersebut sudah disesuaikan dengan kenaikan harga BBM, cukup murah untuk seporsi selat daging yang enak, menyenangkan dan menyenangkan kita cukup membayar Rp 9.000,-

4/5 Bintang saya berikan untuk warung makan ini, sangat direkomendasikan jika anda berkunjung ke kota Solo. Oh iya, karena rame pengunjung dikarenakan makanannya yang enak dan murah pula, disarankan untuk tidak datang setelah pukul 2 siang di hari biasa jika anda ingin mencicipi Selat Daging Iga nya, karena biasanya jam segitu sudah habis.


Monday, 5 August 2013

[Review] Warung Makan Sederhana


Saya rasa kita bisa menemukan banyak warung makan dengan nama yang sama di kota Solo, puluhan bahkan mungkin ratusan (well... mungkin agak2 lebay sik klo ratusan) warung makan bernama "Warung Makan Sederhana". Ada yang jualan nasi sayur, mie ayam, bakso, dll.

Warung Makan Sederhana yang satu ini khusus menjual nasi goreng dan kawan-kawannya, ada mie goreng, mie rebus, nasi mawut dan masih ada beberapa lagi yang lainnya. Dan untuk kali ini kami memesan mie godog (rebus) dan mie goreng.



Warung Bakmi Sederhana ini berada di Jl. Ahmad Yani daerah Kleco Surakarta, tepat di belakang halte BST (Batik Solo Trans), sesuai dengan namanya warung makan ini secara tampilan sederhana banget, berupa tenda dengan beberapa meja di dalamnya. Tipikal warung pinggir jalan lah. Namun demikian warung ini terjaga bersih, sehingga nyaman makan di sana.

Bicara tentang menu yang kami pesan, mie yang dipakai adalah mie kuning basah dengan campuran sayur berupa sawi hijau dan kol (kubis) dengan suwiran daging ayam kampung dan jerohan ayam dan taburan bawang merah goreng.

Secara pribadi saya lebih suka mie rebus daripada mie goreng, sore menjelang malam dengan angin yang cukup dingin rasanya enak menghirup kuah mie yang kental tersebut. Untuk rasa, mie rebusnya cenderung gurih dan pedasnya merica lebih kerasa, sedangkan untuk mie gorengnya lebih kearah gurih manis dari kecap yang mendominasi, sementara mericanya kurang terasa.

Satu lagi yang mengasyikkan, pada mie rebus ada "harta tersembunyi" yaitu telur dadar/ ceplok yang tertimbun tumpukan mie dan sayuran, it's kinda fun when we found the hidden treasure :D

Untuk harga saya rasa cukup terjangkau, 1 porsi mie rebus, 1 porsi mie goreng + 2 gelas es jeruk cukup di tebus dengan harga Rp 30.000,-

Secara keseluruhan penilaian saya 3 bintang dari 5 bintang untuk warung ini, pengalaman makan yang menyenangkan di warung ini. Patut untuk di coba ^_^

Monday, 10 June 2013

[Review] Mie Thoprak Dan Dawet Gempol Pleret

Es Dawet Gempol Pleret

Kalau kemarin saya me review ekstrem kuliner (yakali ekstrem gegara tumpukan kolesterol yang terkandung di dalamnya). Kali ini saya akan me review tempat makan yang normal (nah lho).

Seperti judulnya tempat makan yang saya ulas kali menyajikan makanan khas Solo yaitu Mie Thoprak dan Gempol Pleret (ulasan mengenai Mie Thoprak dan tempat makan lain yang menyajikan Mie Thoprak bisa dibaca disini).

Warung makan ini terletak di Jl. Dr. Wahidin No. 39 daerah Margoyudan Solo. Sebelah utara Masjid Ta'mirul, sekitar 10 meter. Tempat makan ini cukup mudah dikenali karena tempatnya yang mepet tembok Ponpes Ta'mirul dan hanya ada satu-satunya di daerah tersebut sehingga mudah untuk mencarinya.

Selain dua menu utama yang tadi sudah disebutkan, warung makan ini juga menyajikan berbagai macam sup, dari mulai sup ayam, sup galantin sampai dengan sup matahari. Bukan sup yang terbuat dari bunga matahari, atau sup yang dipanaskan dengan matahari, tapi sup dengan cincangan daging yang di bungkus dengan dadar tipis dan kemudian dibentuk bunga matahari. 

Pada awalnya saya hanya pengen makan es dawet gempol pleretnya saja, cuman waktu ditanyain pelayannya saya jadi tergoda untuk mencicipi sup ayamnya juga (begitu mudahnya aku tergoda >_<)

Es dawet gempol pleret merupakan es yang berisi campuran santan kelapa, juruh (gula jawa yang  di encerkan), cendol, gempol dan pleret. Gempol terbuat dari tepung beras yang dicampur air dan gula jawa dan kemudian dibentuk mirip usus yang dikukus dengan rasa yang manis, sementara pleret terbuat dari beras kecil (biasa disebut menir - bahasa Jawa) berbentuk bulat seperti kelereng dan rasanya gurih/asin.

Es Dawet Gempol Pleret di warung ini di dominasi rasa/aroma gula jawa yang kuat, namun rasanya tidak terlalu manis. Sangat segar dinikmati di siang hari yang panas. Porsinya pun kecil, sehingga tidak terlalu mengenyangkan pas untuk camilan.

Sup Ayam Kampung

Untuk teman es Dawet Gempol Pleret saya memesan sup ayam. Sup ayam ini menggunakan ayam kampung, dengan tambahan sayuran berupa wortel, kacang polong, kapri, kentang dan bawang merah goreng. Rasa dan aroma yang mendominasi dari masakan ini adalah rasa ayamnya, untuk bumbu-bumbu berupa bawang putih, merica dan lain-lainnya tidak terlalu menonjol (kalau mengutip pak Bondan, bumbunya tipis saja). Namun demikian aroma dari masakan ini tidaklah amis sama sekali. Nyaman untuk dinikmati.

Yang unik disini adalah dalam penyajiannya, masakan berupa sup dengan kuah yang banyak tidaklah disajikan di dalam mangkuk, namun di dalam piring ceper, padahal kalau kita memesan mie thoprak maka akan disajikan di dalam mangkuk (agak-agak aneh emang).

Menurut saya kedua makanan tersebut merupakan kombinasi yang pas untuk disantap disaat siang hari, baik waktu panas maupun dingin/hujan. 

Mengenai tempatnya sendiri, berhubung berupa warung biasa, jangan bayangkan dan harapkan tempat yang nyaman dan berkelas, yang ada beberapa meja tinggi panjang dan kursi tanpa sandaran panjang (yang biasa disebut dingklik). Dan berhubung warungnya rame, terkadang kebersihan tempat suka terlewatkan, beberapa kali saya lihat meja belum dibersihkan namun pembeli baru sudah menempati meja tersebut, jumlah pelayan yang kurang juga menjadi salah satu penyebabnya. Namun jika kita mau sabar menunggu si mas-mas pelayan bakal membersihkan meja yang akan kita pakai. Dan juga sering saya lihat pengunjung yang membuang tissue bekas lap secara sembarangan di lantai. Btw anyway busyway, daripada dibuang ke lantai kenapa nggak di taruh di piring/mangkuk bekas makan aja sik? Toh nantinya sisa makanan (kalaupun ada) yang ada di atas piring/mangkuk bakal di buang  dan dibersihkan oleh bagian cuci piring (termasuk tissue bekas yang habis kita pakai tadi).

Penilaian saya untuk warung ini adalah 3/5 saya suka dengan makanannya, namun gegara tingkah beberapa pengunjung yang tidak bertanggungjawab jadi agak-agak kurang sedap di pandang. I would love to give 4 or even 5 stars if this place cleaner. Still, I recommend this place when you visit Solo :)

Sunday, 9 June 2013

[Review] Tengkleng Pasar Klewer


Tengkleng merupakan salah satu makanan khas Solo yang jarang bisa kita temui di kota-kota lain. Kita bisa dengan mudah menemukan penjual di seputaran kota Solo. Dari sekian banyak penjual tengkleng, salah satu yang nge hits dari dulu sampai sekarang adalah tengkleng Pasar Klewer.

Seperti namanya, penjual tengkleng ini bisa kita temui di Pasar Klewer, tepatnya di depan pasar Klewer sebelah gapura. Jangan membayangkan sebuah warung atau rumah makan dengan bangunan permanen atau semi permanen. Tengkleng Pasar Klewer merupakan warung kaki lima, dengan penjual berada di depan warung dan beberapa dingklik (kursi kayu panjang) di tata di belakangnya.

Tengkleng sendiri merupakan masakan berbahan dasar kambing, hampir seluruh bagian tubuh kambing bisa dipakai untuk masakan ini, dari mulai daging, jerohan, kaki, kepala dan juga otak. Bumbu yang dipakai untuk tengkleng adalah bumbu gulai, tapi tidak menggunakan santan sehingga rasanya segar.


Pada tengkleng Pasar Klewer, rasa bumbunya halus, tidak terlalu kenceng bumbunya (tidak seperti masakan berbahan dasar kambing pada umumnya). Apabila anda suka rasa yang lebih nendang, tengkleng Pasar Klewer disajikan dengan beberapa biji cabai rawit. Hal menarik lainnya dari tengkleng Pasar Klewer ini adalah dalam penyajiannya, masakan ini disajikan dalam piring daun yang biasa disebut pincuk.

"Paket standard" yang ada di warung ini adalah nasi + daging yang ditusuk seperti sate, jerohan dan bagian dari kepala (entah itu mulut atau telinga), namun kita bisa "request" isian, jangan heran kalau ada pembeli yang minta jerohan, mata, ataupun otak. Khusus untuk otak tidak dimasak bersama-sama dengan bahan lainnya, namun dibungkus dengan daun pisang. 

Oh iya satu lagi, jangan heran juga kalau ada pembeli yang minta klepon. Klepon disini bukan kue tradisional yang terbuat dari tepung ketan berisi gula merah itu, akan tetapi bagian jerohan yang biasa disebut eretan.

Harga untuk satu porsi tengkleng mulai dari Rp 20.000,- tergantung dari isian yang kita request. 

Warung tengkleng Pasar Klewer buka mulai dari sehabis dhuhur (sekitar pukul 13.00) sampai dagangan habis (biasanya sebelum pukul 15.00 sudah habis). Jika hendak kesini sebaiknya datang lebih awal karena bahkan sebelum pedagangnya datang orang-orang sudah pada antri, terlebih saat akhir pekan dan hari libur. 

Penilaian saya 4/5 untuk warung tengkleng Pasar Klewer, sebuah petualangan kuliner yang menarik dan menyenangkan makan di pinggir jalan dengan budget yang terjangkau. Jika anda tengah berada di kota Solo, saya rekomendasikan untuk mencoba kuliner yang satu ini, dijamin anda bakal ketagihan karenanya :D

Btw not recommended untuk anda yang mempunyai penyakit jantung, darah tinggi, asam urat karena kolesterolnya yang tinggi. 

Tuesday, 7 May 2013

[Review] Ala Resep Juna


Pertama kali kenal (beuh... sok akrab :p) maksudnya tahu mengenai Chef Juna adalah dari acara Master Chef Indonesia yang tayang di RCTI. Dan saya termasuk orang yang ikutan sebel ngeliat gaya dia yang nyebelin dan belagu di acara tersebut :))

Sempat kaget juga ketika ngeliat iklan acara ARJuna di Global TV. 

Ciyus? Enelan? Chef Juna punya cooking show sendiri? 

Penasaran juga dengan cara dia bakal ngebawain acaranya. Yang kebayang chef juga dengan muka lempeng dengan komentar-komentar pedes bakal masak ditemani bintang tamu.

Pertama kali nonton, masih agak-agak janggal ngeliatnya, dan kayaknya si Chef Juna juga masih kagok ngebawain acara masaknya sendiri. Tapi lama kelamaan ternyata seru juga nonton acara ini.

Justru dengan dia yang tidak terlalu banyak bicara, seperti menjaga jarak dengan bintang tamunya (tidak sok akrab seperti di acara memasak lainnya) menjadi kekhasan dari acara ini. Dan kalau menurut saya lebih enak untuk dinikmati (saya menonton acara masak untuk mengetahui cara memasak suatu makanan bukan gossip mengenai bintang tamu atau yang lainnya)

Saya ingat waktu bintang tamunya FiTrop beberapa waktu lalu. FiTrop yang suka heboh sendiri baik dalam gaya bicara maupun gesture tubuhnya, hanya ditanggapi kalem bin lempeng oleh chef Juna, sumpah ketawa ngakak waktu liat episode ini.

Selain ke khasannya tersebut, satu lagi yang saya suka dari acara ini adalah resep-resep yang disajikan serta penyajiannya. Resep-resep yang dibuat oleh chef Juna bukanlah resep-resep rumit dan sulit pembuatannya, namun dengan penyajian yang apik membuatnya menjadi suatu sajian yang mewah.

Ala Resep Juna bukan hanya acara hiburan masak memasak, namun banyak hal yang bisa kita pelajari disitu, terutama dalam bidang gastronomi, cara pemilihan bahan, memasak dan penyajian yang baik yang menggugah selera.


Satu hal yang sedikit agak menganggu adalah, beberapa kali bintang tamu sempat bertanya "Kenapa chef Juna yang ganteng pintar masak tidak segera menikah?"

Well... Leave that matter to infotainment shall we? Ini acara memasak, bukan acara gossip.

3,5/5 bintang saya berikan untuk acara ini, semoga semakin banyak acara masak seperti yang satu ini.

Monday, 6 May 2013

[Review] Warung Bakso Pak Mino


Pertama kali saya mampir ke sini karena ketidaksengajawaan. Awalnya saya memesan mie ayam, dan ketika menunggu pesanan saya diantar, saya lihat ada menu Mie Thoprak yang ditawarkan warung ini. Saya pikir, lain kali kalau kesini boleh lah nyobain Mie Thopraknya.

Dan di kesempatan berikutnya, saya memesan menu Mie Thoprak. Mie Thoprak, atau lengkapnya Mie Kethoprak (Ketoprak) merupakan masakan khas Indonesia, ada beberapa daerah yang memiliki Mie Ketoprak sebagai makanan khas nya, dan tiap-tiap daerah memiliki resep/ tampilan mie ketoprak yang berbeda-beda.

Mie Kethoprak khas Solo (untuk selanjutnya disebut Mie Thoprak) terdiri atas mie kuning ditambah irisan tahu, tempe, daun kol, seledri ditambah kacang tanah goreng, remukan kerupuk karak dan tetelan daging sapi yang disiram kuah kaldu sapi untuk kemudian ditaburi bawang merah goreng. 

Mie Thoprak di Warung Bakso Pak Mino ini sedikit berbeda, alih-alih menggunakan remukan kerupuk karak, mereka menggunakan kulit pangsit goreng, dan ditambah dengan bakso daging sapi di setiap porsinya.

Awalnya ngerasa aneh melihat ada bakso di dalam semangkuk Mie Thoprak, namun setelah di rasakan, ternyata enak juga. Rasa dari Mie Thoprak sendiri secara umum adalah rasa segar khas sup daging sapi, dengan kaldu yang kental aroma dan rasanya karena kuah yang dipakai adalah kuah bakso.

Warungnya sendiri juga cukup bersih dan cukup nyaman dan harga nya juga terjangkau. Mungkin karena di sekitar warung merupakan daerah pabrik, jadi harga yang di tetapkan juga tidak terlalu mahal. Untuk seporsi Mie Thoprak + segelas es teh saya cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 8.500,- cukup murah kan?

Warung Bakso Pak Mino terletak di Jalan Raya Batik Keris, Cemani, Sukoharjo. Dari arah  Batik Keris ke arah Selatan kurang lebih 150 meter, setelah Alfamart sebelah Barat jalan.

2,5/5 bintang saya berikan untuk warung ini, atas rasa, pelayanan dan tempatnya. Jika anda tengah berada di daerah Cemani dan hendak menikmati kuliner yang murah meriah dan enak, boleh lah mampir ke warung ini.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes